Siapa yang lebih kuat, superhero Marvel atau DC? Entahlah pahlawan super komik mana, yang lahir di dua perusahaan komik raksasa ini, yang lebih kuat. Setiap tahun, nama-nama baru seperti Ant-Man dan Aquaman ditambahkan ke dalam kisah klasik seperti Superman, Batman, dan Spider-Man. Lebih penting lagi, kita sekarang berbicara tentang tim superhero dan dunia imajiner mereka yang mereka jalani bersama. Di satu sisi, ada Justice League yang menyatukan Superman dan Batman, dan di sisi lain, ada Avengers dengan Iron Man, Captain America, Thor, Hulk dan banyak lainnya. Pahlawan super tidak sendirian. Mereka saling mendukung untuk menyelamatkan dunia dari kejahatan dengan “upaya kolektif.” Di latar belakang semua keributan ini adalah persaingan antara DC dan Marvel yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Awal Peperangan

Semuanya dimulai dengan Superman, ditampilkan dalam edisi pertama majalah Action Comics, dirilis oleh DC (Detective Comics) pada tahun 1938. Setelah sambutan hangat terhadap Superman, DC terus merilis pahlawan super baru seperti Batman. Sementara itu, hadir Timely Comics yang didirikan pada tahun 1961, dan kemudian berganti nama menjadi Marvel dengan merilis “tren superhero” Human Torch pada tahun 1939. Captain America, salah satu pahlawan super terkemuka Marvel, adalah salah satu karakter populer tahun 1940-an. Namun demikian, DC jelas berada di atas angin di dunia komik superhero hingga 1960-an; Marvel sepertinya tidak bisa mengimbangi DC. Persaingan kedua raksasa ini sesungguhnya dimulai ketika Stan Lee merilis The Fantastic Four pada tahun 1961 sebagai alternatif dari Justice League dari DC Comics. Marvel mulai secara perlahan membangun popularitas di tahun 50-an dibawah sentuhan istimewa Stan Lee dengan berhenti meniru gaya DC dan hadir dengan konsep penuh semangat masa muda dengan ide-ide baru.

Pada tahun-tahun itu, Marvel memasukkan unsur humor sambil terus meningkatkan repertoar pahlawan supernya. Sebaliknya, DC mempertahankan posisinya yang serius dan berbobot, yang terus mewakili cita-cita Amerika dengan bertaruh pada pahlawan sekolah tua. Marvel adalah alternatif liberal sementara DC tampaknya lebih konservatif.

Pada tahun 70-an, Marvel menjadi saingan serius bagi DC. Persaingan antara kedua perusahaan komik ini kadang-kadang sering mengarah kepada saling tuduh terjadi plagiarisme antar keduanya. Kedua rival ini terus saling mengawasi satu sama lain selama bertahun-tahun dan selalu mengimplementasikan formula atau trik dan strategi untuk sukses. Tak hanya berseteru, keduanya malah pernah berkolaborasi dalam beberapa proyek walaupun ‘perang’ terbuka antaranya sangat. jelas. Pada tahun 1975, mereka menyatukan kekuatan untuk proyek MGM’s Marvelous Wizard of Oz. Setahun kemudian, mereka pun merilis Superman vs The Amazing Spider-Man. Dalam komik tersebut menampilkan kolaborasi dua penjahat, Lex Luthor dan Doctor Octopus, sementara kota Metropolis dan New York City adalah tempat yang mmenjadi satu bagian penting. Yang lebih seru adalah Clark Kent, Lois Lane, Peter Parker dan Mary Jean Parker pergi makan malam bersama.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa penggemar DC dan Marvel selalu mengunggulkan superhero favorit mereka dari kedua publisher ini, dan mmenjadi bahan diskusi siapa yang akan mengalahkan siapa, dan membayangkan siapa yang menjadi pemenang pertarungan antara, katakanlah, Hulk dan Superman. Kondisi ini menjadi sumber inspirasi bagi kedua perusahaan tersebut hingga pada tahun 1996, mereka menerbitkan beberapa rilisan komik berjudul DC vs Marvel Comics.

Tak hanya berseteru, keduanya malah pernah berkolaborasi dalam beberapa proyek

Hari ini, tidak ada lagi kolaborasi serupa, kompetisi menjadi leboh alot dan bioskop menjadi ajang perang utama. Menariknya, kompetisi ini dimulai saat dominasi DC di layar bioskop saat akhir tahun 1970-an, DC memutuskan untuk membuat film Hollywood dengan anggaran besar, glamor dan legendaris dibandingkan semua produksi TV dan bioskop, serial animasi, dan pertunjukan anak-anak. Disutradarai oleh Richard Donner, Superman (1978) adalah tonggak sejarah untuk film-film superhero. Film ini memadukan genre sci-fi dengan cerita-cerita superhero dalam skenario emosional dan produksi yang benar-benar teliti. Setelah itu DC merilis lagi tiga film di mana Christopher Reeve bermain Superman, DC menaikkan standar sehingga tidak mungkin bagi Marvel untuk segera merespon. By the way, Time Warner, ssebagai pemilik DC yang dikenal karena pengalamannya dalam pembuatan film, memutuskan untuk merilis superhero Batman ke dalam film juga. Tim Burton, seorang sutradara muda dan cerdas pada saat itu, membuat Batman (1989) dan Batman Returns (1992), dan ternyata lebih dikagumi oleh para penggemar, melampaui seri Superman.

Bangkitnya Perlawanan Marvel

Sementara selama tahun-tahun, Marvel tak tahu apa-apa tentang pembuatan film layar lebar. Marveel tak punya perusahaan produksi film atau pengalaman tentang film apa pun. Bahkan tidak memiliki hak cipta film untuk beberapa pahlawan super mereka. Walaupun mereka memiliki rencana untuk mem-film-kan Spider-Man akan tetapi mereka tidak pernah merealisasikannya. Hinnga pada tahun 90-an, setelah satu dekade didominasi oleh pahlawan DC di bioskop, Marvel akhirnya merilis film X-Men (2000) yang disutradarai oleh Bryan Singer dengan  produksi yang unik, mencolok dan mengesankan yang tidak seperti film-film superhero yang sebelumnya. Ketika DC berjuang untuk mengatasi guncangan kegagalan dengan Batman Forever (tidak diterima dengan sangat baik oleh penggemar DC) dan Batman and Robin (dibenci secara terbuka oleh mereka), Marvel melakukan serangan dan mulai mengambil memimpin industri film bertemakan superhero. Serial X-Men baru serta trilogi Spider-Man yang dikerjakan oleh Sam Raimi dipuji dan dikagumi sebagai refleksi sukses dari  komik Marvel.

DC pun tak mau kalah hingga dengan cepat bangkit membalas. DC membuat langkah bersejarah dengan mempercayai Christopher Nolan, seorang sutradara Inggris yang digemari oleh generasi baru, dengan film Batman. Hasilnya luar biasa. Film pertama Batman Begins (2005) memang bagus tetapi yang kedua, The Dark Knight (2008), menjadi sebuah masterpiece dan dipuji oleh khalayak bahkan oleh para fanatik Marvel. Film ini menghadirkan  kegelapan yang unik pada tragedi dan kedalaman emosi pada film-film superhero. Karakter dan plot dieksekusi dengan sempurna hingga meraup pendapatan box office sebesar 533 juta dolar Amerika hanya di AS saja. Film ini memcatat sejarah dengan meraih piala Oscar oleh Heath Ledger yang memainkan peran sebagai Joker.

Marvel terus berinovasi dan berkembang melalui tokoh Iron Man, Marvel dengan sabar mengerjakan rencana jangka panjang yang telah disusun oleh mereka. Awalnya, banyak yang tidak mampu menarik perhatian penonton karena dibayangi oleh seri Dark Knight Nolan. Marvel pun memasukkan tokoh seperti Captain America, Thor dan Hulk ke dalam seri Avengers. Publik menilai bahwa dengan mengkolaborassikan para pahlawan ini adalah “ketinggalan zaman”, namun The Avengers (2012) membuktikan kesuksesannya yang kemudian diikuti rangkaian film solo untuk Captain America dan Thor. Sejak itulah Marvel terus memimpin popularitas melewati DC dengan menampilkan kisah-kisah lintas tempat, misalnya, Kapten Amerika dapat bertemu dengan para pahlawan Marvel lainnya. Thor, Spider-Man dan Ant-Man, X-Men juga melanjutkan generasi superhero dengan pemeran baru. Keberuntungan Marvel makin berssinar kala Ikon hero terbaru Marvel, Black Panther, yang mengisahkan seorang pahlawan super Afrika yang hebat menghasilkani box office, dan menjadi salah satu superhero favorit baru di dunia.

Baca juga:

Marvel vs DC: Saling Curi 10 Karakter Superhero

DC Putus Asa?

DC merespon kesuksesan Avengers dengan meng-adaptasi Justice League ke layar perak. Dalam film ini DC meletakkan fondasi dengan film Superman baru, Man of Steel (2013), DC united Superman, Batman, Wonder Woman dan Aquaman dan banyak yang tak menyangka, semua orang terkejut dengan kesuksesan Wonder Woman yang diperankan oleh aktris cantik Gal Gadot, sehingga mampu mengangkat Wonder Woman menjadi salah satu superhero DC yang paling populer.

Perseteruan yang Tak Pernah Berujung

Persaingan antara kedua perusahaan tersebut tak pernah reda, namun tak ada keraguan bahwa Marvel lebih unggul dalam film dalam hal kualitas dan kuantitas walaupun mereka sempat tertinggal oleh DC. Tidak mudah bagi DC untuk memenangkan hati para kritikus dan bersaing dengan Marvel. Karakter Marvel memiliki kualitas yang lebih manusiawi, menampilkan kekuatan dan kelemahan, sementara DC tampaknya milik dunia mitologis – kecuali untuk Batman. Selain trilogi Batman Nolan, Man of Steel dan Wonder Woman, para kritikus belum menjadikan film-film DC dengan rating tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, Marvel masih sibuk menikmati kesuksesan Black Panther dan merilis Avengers: Infinity War pada bulan Mei 2018, dan DC menyajikan film solo tentang Aquaman kepada penonton. Sepertinya persaingan pasti akan menjadi lebih ganas!

Perdebatan Marvel vs DC ini tidak berakhir dalam waktu dekat. Tetaplah menunggu setiap perseteruan mereka dalam bentuk komik dan film.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *